mengular jalan kenang,
liku lorong membacai limar ingatan
masuk perlahan
pada peron yang menunggui
masih setia ia berdiam
satu-dua pergi
capai ribu hitungan
kemudian ia menguntit di belakang
seperti lambai tangan lekang dari pandang
seperti peluk sengaja ditinggalkan
ada kecup penanda di situ
di belah kening, cap gincu
: ada yang harus dibayar pada jumpa
mungkin, kembali
Tidak ada komentar:
Posting Komentar