Perlahan angin menempuh lajur
membawa kapal demi kapal datang,
singgah, bersetubuh dengan buritan,
kemudian pergi sekejap
Angin terlanjur akrab pada sementara
Angin terlanjur akrab seenaknya
Mercusuar tua perlahan padam
Rasanya ada yang bosan memberi cahaya
Kapal-kapal nelayan yang enggan menetap
Dan hati perempuan jenuh ditinggalkan
Minggu, 29 April 2012
Tone
suatu saat ada yang dipinjam pada lirik serenada
dikutip-tulis bait yang bercerita
tentangnya
tentang sajak
tentang melankoli
tentang ranum hujan
mulai jarang dipanennya di sebuah bulan
ia hendak mengirimkannya hati-hati
mungkin pada amplitudo kisah tak jelas pangkalnya
bagaimana mungkin ia dapat menera kenangan
(sementara) musim masih terus berulang
(sementara) ada yang tengah beresonansi
sampaikah padamu?
: ini bukan sajak tentang cinta maksudnya
tapi bagaimana kalau "iya"
Begitu Saja yang Tak Nampak Biasa
ada yang begitu benci lagu berkasih-kasihan
ditempeli dinding demi dinding dengan nada tanpa lirik
ada yang begitu membenci tentang puisi
dijejer-bariskan bait demi bait
dipanggilnya orang-orang
berteriak
"seributiga, seribu-tiga"
lalu berlarilah di sepanjang trotoar
orang-orang bergincu arang
pada mulut juga kedalaman jantung-jantung mereka
mereka penjaja yang takhluk pada biasa
:
"kami berhias untuk mereka" katanya.
Tiga Bait Empat Belas
empat-belas :
tiada lagi jeda
perburuan waktu kejam
di simpangan menanti keranda
di hentian ditunggu ikatan
kau lebih dulu pergi
|
empat belas :
musim kehabisan daya
merepih habis didentam detik waktu
lihat, kepulangan camar kembali ke sarang
ada yang menunggu sendiri
gersang pada april kehilangan gigil
|
empat-belas :
luruh angka pada hitungan nafas kesekian
limar menghitam kering sudah
kepada luka masa lalu : giliranmu meniada
tiada lagi jeda
perburuan waktu kejam
di simpangan menanti keranda
di hentian ditunggu ikatan
kau lebih dulu pergi
|
empat belas :
musim kehabisan daya
merepih habis didentam detik waktu
lihat, kepulangan camar kembali ke sarang
ada yang menunggu sendiri
gersang pada april kehilangan gigil
|
empat-belas :
luruh angka pada hitungan nafas kesekian
limar menghitam kering sudah
kepada luka masa lalu : giliranmu meniada
April
Kadang dalam hujan aku menemui wajah-wajah
Dari pantul tempias kaca-kaca berembun
Inikah hujan akhir di bulan April?
Menyejajarkan diri pada periode-periode lalu
Selalu kemudian ada sesuatu
Seperti mungkin lagu-lagu tertinggalkan dalam kenang impi tinggal tanggal
Pada selampitan sarung bantal yang basah lalu sekian lama mengering
Tak ada lagi yang bisa terbacai pada musim
(Sungguh) perasaan yang mati
Bukan berarti tak akan hidup lagi
Dari pantul tempias kaca-kaca berembun
Inikah hujan akhir di bulan April?
Menyejajarkan diri pada periode-periode lalu
Selalu kemudian ada sesuatu
Seperti mungkin lagu-lagu tertinggalkan dalam kenang impi tinggal tanggal
Pada selampitan sarung bantal yang basah lalu sekian lama mengering
Tak ada lagi yang bisa terbacai pada musim
(Sungguh) perasaan yang mati
Bukan berarti tak akan hidup lagi
...
kadang galau itu sesuatu mengendap saat malam
seperti memburu babi hutan atau kijang
melesatkan peluru paling tajam
pada lelap yang tak seberapa tanak
kadang galau itu seperti dering telepon tiba-tiba
tanpa nama pemanggil, atau nomor tak dikenal
kemudian menyeru namamu dengan nada paling biasa
lalu menerormu seketika
kadang galau itu seperti bintang jatuh tersesat
ia tak punya landasan tuju
menggasak ruang di lapang hati
hey, meninggalkan jejak?
kadang galau itu seperti gerebek hansip saat malam
kau tak sedang berbuat salah, bukan?
Nokturnal
seperti inikah malam
dahan-dahan tanjung enggan megar
tergantung kuntum cerita sangsi jadi
seperti inikah malam
dingin mengetuk-ketuk kayu daun pintu
mungkin kau ada di situ
tiba dari mesin waktu
: rindu
Note
1/
ya, akhirnya datang juga saat kulukis kembali sajak diantara mata setengah terjaga, hamparan buku dan -isme, -isme antara kau, aku dan fajar yang kesiangan. sedari lalu aku hanya menjagai dinding-dinding peta yang kau gambari peta perjalanan. kau tandai perjalanan mana yang akan aku tempuh untuk menujumu.
tentang trotoar, tentang stasiun, tentang terminal pemberhentian dan tentang titik-titik terbang yang bisa ku lalui. kau hapal setiap kelok, setiap belok, seperti aku mengenal setiap liuk penandamu yang kau gariskan pada kata-kata yang hadir pada seru sebelum subuh.
mungkin ini sekedar menjadi hiburan saat penguasa-penguasa waktu mulai renjana dan memvonisku akan hari tanpa alpa. kau seperti hilang jejak sementara.
lalu kemana dirimu?
dan tiba-tiba saja kutemui kau kembali dalam tokoh yang kubaca diantara halaman-halaman yang kehilangan cerita. sepertinya kalau hanya mengira, tak pernah bisa aku menebak arahnya yang pasti. jadi mungkin kita bisa menelusur pada sibak rambut dan bisik nakal sang bayu, kau bisa menitip pesan padanya yang kupercaya.
sebuah salam saja, "selamat pagi..." kemudian matahari rona merekah.
mungkin, kan?
2/
mungkin suatu saat antara aku dan kamu menjadi tidak penting lagi
ketika seseorang yang lain memegangi pundakmu (seperti tak aku lakukan)
atau mengusap embun di kelopak mata (seperti yang aku benci lakukan)
: hanya mengingatkan pada seseorang di masa lalu
(yang tentu aku benci mengingat)
Pada Sebuah Prairi
ada sekumpulan rumput merah muda yang tumbuh
anai-anai mencari remah di sekeliling
pemandangan rumah kecil,
di dekat tebing itu cukup indah, bukan?
perempuan dengan sabar menunggui matari temaram
di ujung sendok kayu yang dipakainya untuk menanak nasi
ia memelihara ikatan rambutnya
lelaki menanam seikat janji
dan pada senja yang malu-malu
diberinya penanda di belah kening perempuan itu
selamat datang, cinta
katanya pada prairi menyembunyikan peluk
ujarnya mesra
Sebuah Kabar Bercerita Rindu
kabarnya, rindu itu bisa mematikan.
taruh saja sedikit formula
seduh dengan beberapa ingatan
berdenyar-denyut hati
memompa sel darah cepat naik ke kepala
lalu berhenti
kabarnya, rindu itu bisa mematikan
impikan pulang ke pelukan
melupa catatan waktu
menunggu jadi misteri mengasyikkan
: berselinthut pada alfabetmu
Kiriman Surat Merah Muda
Sepucuk surat merah muda diloloskannya dari jendela bersekat kaca. Surat itu telah merindu kurir mengantar bahasa diam paling mesra.
Ini cerita cinta klasik, bukan? Bagaimana kehadiran kurir jauh lebih romantis dari sekedar jajaran alfabet yang menari di ujung penamu. Bagaimana kurir mengetuk pintu, menunggu kemudian berteriak,
"Pos"
Meski kau lupa membubuhkan perangko, atau mencatatkannya untuk kiriman khusus, surat merah muda itu tak pernah terlambat, selalu tepat waktu.
Ungkapan rindu memang tak pernah salah waktu.
Ini cerita cinta klasik, bukan? Bagaimana kehadiran kurir jauh lebih romantis dari sekedar jajaran alfabet yang menari di ujung penamu. Bagaimana kurir mengetuk pintu, menunggu kemudian berteriak,
"Pos"
Meski kau lupa membubuhkan perangko, atau mencatatkannya untuk kiriman khusus, surat merah muda itu tak pernah terlambat, selalu tepat waktu.
Ungkapan rindu memang tak pernah salah waktu.
Kota Perhentian Sementara
seperti ada sepenanda luruh
tahun berlari
persimpangan jalan
mencegat kendaraan terakhir lewat
seperti ada yang tanggal
tinggal di belakang
pasar mulai sepi penjual
beberapa gaduh beranjak pulang
seperti ada yang ingin menggayut kembali
pada perhentian separo tujuan
ia menggendong beban
kau menengok menelengkan wajahmu
waktu yang enggan berhenti berdenyut detak
memburu setiap sudut
aku sepertinya tak pernah lupa
setiap jengkal wajah itu
: wajah kenangan di jantung kota
perhentian sementara
Dan Ketika...
1/
aku mencarinya sungguh,
pada ilalang merimbun
pada bayang tergambar di jejak edar matari
seolah ini adalah kelahiran kita yang pertama bukan?
aku mencarinya sungguh,
pada semak-semak savana yang tumbuh
selalu ada tunas menguncup malu-malu bukan?
apa diajarkan hujan pada tanah gersang?
pada pelangi melengkung telikung cakrawala, kemudian?
ada deru pada hidup, pada cinta
tak semua yang punah abadi bertahta
2/
suatu pagi dengan percakapan daun gugur, didendangkannya suara rindu. seperti tembang yang diperdengarkan oleh gerisik. tak pernah lagi sumbang.
jadi kapan kau tiba mengucap salam. dan sepasang sandal gunung kau tanggalkan begitu saja.
bukankah aku selalu menunggu dengan sabar, atas pertemuan demi pertemuan yang entah kapan? seperti musim gugur yang selalu menjatuhkan satu demi satu harapan, ada yang tumbuh kemudian
jadi kapan kau tiba mengetuk daun yang lain? daun pintu rumahku yang terpasang tak sekokoh dulu
kemudian kita saling berpeluk, sambil menunggu fajar yang mulai malas terbangun. dan matari yang mogok kerja pagi itu.
Langganan:
Postingan (Atom)