Minggu, 29 April 2012

Note


1/
ya, akhirnya datang juga saat kulukis kembali sajak diantara mata setengah terjaga, hamparan buku dan -isme, -isme antara kau, aku dan fajar yang kesiangan. sedari lalu aku hanya menjagai dinding-dinding peta yang kau gambari peta perjalanan. kau tandai perjalanan mana yang akan aku tempuh untuk menujumu.

tentang trotoar, tentang stasiun, tentang terminal pemberhentian dan tentang titik-titik terbang yang bisa ku lalui. kau hapal setiap kelok, setiap belok, seperti aku mengenal setiap liuk penandamu yang kau gariskan pada kata-kata yang hadir pada seru sebelum subuh.

mungkin ini sekedar menjadi hiburan saat penguasa-penguasa waktu mulai renjana dan memvonisku akan hari tanpa alpa. kau seperti hilang jejak sementara.

lalu kemana dirimu?

dan tiba-tiba saja kutemui kau kembali dalam tokoh yang kubaca diantara halaman-halaman yang kehilangan cerita. sepertinya kalau hanya mengira, tak pernah bisa aku menebak arahnya yang pasti. jadi mungkin kita bisa menelusur pada sibak rambut dan bisik nakal sang bayu, kau bisa menitip pesan padanya yang kupercaya.

sebuah salam saja, "selamat pagi..." kemudian matahari rona merekah.

mungkin, kan?

2/

mungkin suatu saat antara aku dan kamu menjadi tidak penting lagi
ketika seseorang yang lain memegangi pundakmu (seperti tak aku lakukan)
atau mengusap embun di kelopak mata (seperti yang aku benci lakukan) 

: hanya mengingatkan pada seseorang di masa lalu
(yang tentu aku benci mengingat)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar